Selamat Datang di WaktuCom Kumpulan Berita Terpercaya

Jelang Ramadan, Ahok Menyempatkan Diri Ziarah ke Makam Ibu Angkat

WaktuCom - Jakarta - Di sela kesibukannya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyempatkan diri berziarah ke makam ibu angkatnya, Misribu Andi Baso Amier, di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Ahok berziarah sebelum meresmikan RPTRA Harapan Mulia di Taman Kebon Bibit Harapan Mulia, Kemayoran, Jakarta Pusat. Menurut Ahok, tiap awal Ramadan dia selalu berziarah ke makam Misribu.

"Kebetulan dapat jatahnya HUT (DKI) ziarah ke makam pahlawan tidak ke Karet Bivak, nah di situ kan ada ibu angkat saya. Saya lihat waktu saya padat, ini sudah jelang puasa. Saya khawatir sampai minggu nggak ada waktu (ziarah), jadi tadi saya sempatkan," ujar Ahok di RPTRA Harapan Mulia, Jakarta Pusat, Rabu (1/6/2016).

Sebelumnya, Ahok mengakui bahwa bapak angkatnya yakni suami Misribu, Andi Baso Amir adalah keturunan Raja Bone.

Keluarga Andi Baso yang mengurus Ahok selama mantan Bupati Belitung Timur itu menempuh kuliah di Jakarta.

Hubungan ayah Ahok dan Andi Baso Amir terbilang cukup dekat. Karena itu, saat Ahok merantau dari Belitung ke Ibu Kota untuk melanjutkan pendidikan, sang ayah menitipkannya kepada keluarga Andi Baso.

Kedekatan antara Ahok dan keluarga Andi Baso juga terlihat, saat Ahok menyempatkan diri mengantar dan mengangkat keranda sang ibu angkat hingga ke peristirahatan terakhirnya pada 2014 lalu.

Cerita Ahok yang Overdosis Gara-gara Dokter Kejar Target Obat

WaktuCom - Jakarta - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bercerita pernah menjadi korban kelakuan dokter yang mengejar setoran penjualan obat. Akibatnya, Ahok sampai overdosis gara-gara kebanyakan dikasih obat oleh dokter itu.

"Dokter-dokter kita di swasta lebih berbahaya soal overdosis karena (sistem) fee for services," kata Ahok di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jl Kamal Raya Bumi Cengkareng Indah, Jakarta Barat, Selasa (31/5/2016).

Ahok menyampaikan hal ini dalam sambutannya di acara hari ulang tahun RSUD Cengkareng ke-13. Turut hadir Direktur Utama RSUD Cengkareng Sugino Kesuma Karo Karo.

Melanjutkan ceritanya soal dirinya yang pernah kelebihan dosis obat, awalnya Ahok melakukan check up di rumah sakit. Dokter menyarankan agar Ahok melanjutkan pemeriksaan ke bagian tubuh yang lain.

"Saya check up, dokter berkata kayaknya pendengaran bapak yang kiri perlu dicek spesialis deh. Tenggorokan bapak juga perlu diperiksa. Empedunya juga perlu diperiksa," kata Ahok menirukan saran dokter.

Menanggapi saran dokter yang memeriksanya kala itu, Ahok hanya mengiyakan saja dan menuruti. Bagian-bagian yang disarankan untuk diperiksa, akhirnya diperiksa, dan obat harus ditebus dengan uang.

"Dikasih segepok obat, akhirnya saya minum semua," kata Ahok.

Sebagai pasien yang baik, Ahok mengikuti resep dokter meminum obat-obat itu. Tapi justru resep dokter malah membikin tubuh Ahok bereaksi aneh. Badannya gemetaran.

"Badan saya jadi gemeter," kata Ahok.

Merasa ada yang aneh, Ahok menelepon adiknya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Adiknya menyatakan Ahok telah kelebihan obat alias overdosis.

"Saya telepon adik saya yang dokter. Dia bilang, 'kamu kebanyakan obat. Sudah, minum susu saja.'," kata Ahok menirukan saran adiknya.

Akhirnya Ahok membuang segepok obat-obatan yang diberikan dokter swasta sebelumnya. Ahok adalah putra dari ibu yang punya usaha apotek. Pilihan untuk membuang obat-obat itu tentu akan disesalkan ibunya Ahok bila diketahui, Ahok berkelakar.

"Aku buang saja lah. Kalau ketemu ibu saya bisa dimarahi, karena bisa dijual itu obat," kata Ahok disambut tawa dua ratusan orang yang hadir di ruangan Aula Gambang Kromong ini.

Kejar setoran penjualan obat yang dilakoni dokter-dokter swasta ini akibat sistem fee for services, yakni pembayaran per pelayanan. Namun sekarang, RSUD-RSUD di Jakarta menerapkan sistem INA CBGs (Indonesia Case Base Group), yakni model pembayaran kepada rumah sakit per paket pelayanan yang diterapkan untuk pasien. Sistem INA CBGs bisa mengkondisikan agar rumah sakit tak mengejar penjualan obat.

"Dengan fee for services, kita bisa overdosis," kata Ahok.

Di pengujung sambutan, Ahok berucap selamat ulang tahun untuk RSUD Cengkareng, semoga bisa mengejar target menjadi rumah sakit terbaik se-Asia Tenggara pada 2020. Ulang tahun ke-13 ini bukanlah periode buruk. Angka 13 adalah angka keberuntungan.

"13 Itu bukan angka sial kalau anda ngerti matematika. Karena 1 tambah 3 itu empat, empat itu pondasinya kuat karena empat kaki," tandas Ahok disambut tepuk tangan.

Bukti Ahok Serius Gaji Tukang Parkir Rp 5,4 Juta - WaktuCom

WaktuCom - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok serius ingin menggaji juru parkir 2 kali Upah Minimum Provinsi (UMP). Keseriusan Ahok diperlihatkan dengan menyiapkan kerja sama operasi (KSO) dengan para operator mesin parkir untuk membayar gaji juru parkir.

"Saya minta ke operator untuk kasih gaji ke tukang parkir 2 kali UMP. Kita lagi siapin KSO-nya," ungkap Ahok di Balaikota Jakarta, Kamis (29/1/2015). Saat ini UMP Jakarta Rp 2,7 juta, maka total gaji yang diperoleh tukang parkir di Jakarta nanti, Rp 5,4 juta.

Nantinya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperoleh dari retribusi parkir akan dibagi dengan operator mesin parkir. Pembagiannya 70:30. Operator, kata Ahok, mendapat 30 persen termasuk untuk membayar gaji juru parkir sebesar 2 kali UMP.

Ahok mengungkapkan, selama penerapan mesin parkir meter di Jalan Agus Salim (Sabang) Jakarta Pusat, pendapatan retribusi parkir mencapai 6-10 juta per hari atau meningkat 12 persen per hari dari sebelumnya. Dengan tarif parkir kendaraan roda empat Rp 5.000 dan Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua.

"Kami berharap parkir meter bukan hanya tambah PAD DKI. Dulu sehari cuma dapet gopek dengan ini kita bisa sampai 10 juta. Ini untuk membantu pemerintah meningkatkan pendapatan domestik bruto dan membantu perbankan untuk sistem kredit," tutur Ahok.

Koalisi Gemuk Bakal Menghadang, Ahok: Gue Juga Gemuk

WaktuCom - Jakarta - Sejumlah partai politik menjajaki 'koalisi gemuk' untuk melawan kandidat cagub petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Melihat perkembangan ini, Ahok santai saja menanggapi.

"Gue (saya) juga sudah gemuk kok," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (30/5/2016).

Ahok menyatakan hal tersebut sambil tersenyum santai saja dan akhirnya berlalu. Memang koalisi gemuk itu baru dalam taraf penajajakan.

PDIP, Gerindra, PKS, dan PAN adalah partai-partai politik yang sedang berkomunikasi menjajaki koalisi besar itu. Belum jelas juga siapa yang bakal mereka usung untuk menjadi calon gubernur DKI di Pilgub 2017.

Sebelumnya, Ahok juga pernah berujar koalisi besar tersebut adalah hal yang wajar. Ahok tak gentar dengan hadangan itu.

"Saya kira politik memang begitu. Wajar saja. Enggak ada sesuatu yang baru," kata Ahok usai acara 'Teman Ahok Fair' di Gudang Sarinah Ecosystem, Jakarta Selatan, Minggu (29/5) kemarin.

Belakangan, angin dukungan juga berembus dari Partai Golkar. Meski belum eksplisit menyatakan dukungan, namun Ketua Umum Golkar Setya Novanto menyatakan sebagai sahabat Ahok. Selain itu, dia mengapresiasi kinerja Ahok.

"Yang jelas, Pak Ahok sangat baik dan kinerjanya berhasil. Itu yang saya lihat," kata Novanto di Gedung DPR.

"Ahok Lover" dari Luar Jakarta Pun Hadir di "Teman Ahok Fair"

WaktuCom - JAKARTA — Dalam acara Teman Ahok Fair, "Teman Ahok" memasang Papan Aspirasi yang menjadi tempat pengunjung menuliskan aspirasinya untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Menariknya, papan tersebut bukan hanya diisi oleh aspirasi warga Jakarta saja, melainkan juga warga di luar Jakarta.

"Aku dari Tangerang Selatan, tetapi aku ke sini. Ahok lover," tulis salah satu pengunjung di Papan Aspirasi, Minggu (29/5/2016).

Kegiatan Teman Ahok Fair memang tidak terbatas untuk warga Jakarta saja. Tidak ada kewajiban bagi pengunjung untuk menunjukan KTP DKI agar bisa masuk. Asalkan membeli tiket masuk, warga luar Jakarta pun bisa hadir.

Teman Ahok Fair sendiri digelar di Gudang Sarinah Ecosystem, Jalan Pancoran Timur, Jakarta Selatan.

"Kalau saja KTP Bogor bisa dikumpulin, sudah saya kumpulin buat Pak Ahok. Semangat warga Jakarta dan Teman Ahok buat pengumpulan 1 juta KTP," ujar Gerry Christian. (Baca: Sejuta Harapan di "Teman Ahok Fair")

Salah seorang warga Bekasi menulis dia memang tidak bisa memberikan dukungan data KTP kepada Ahok. Namun, dia berharap kedatangannya ke Teman Ahok Fair bisa membantu pembiayaan untuk memenuhi syarat administrasi pendaftaran calon independen ke KPU.

"KTP gue bukan buat Ahok karena gue orang Bekasi. Gue hanya bisa suport semaksimal yang gue mampu," ujar warga tersebut tanpa menuliskan namanya di Papan Aspirasi.

Hari ini adalah hari terakhir penggalangan dana lewat acara Teman Ahok Fair. Saykoji, Float, dan Mocca akan hadir pada hari terakhir ini. Ahok juga akan datang menjumpai warga pendukungnya. Harga tiket masuk yang dikenakan adalah Rp 25.000 untuk tiket presale dan Rp 35.000 untuk tiket yang dibeli di lokasi.

TemanAhok Buka Pendaftaran Relawan Pengawal TPS

WaktuCom - Mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang kini menjadi pendamping ahli relawan "Teman Ahok", I Gusti Putu Artha, mengatakan, verifikasi faktual KTP dukungan untuk calon gubernur dan wakil gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama-Heru Budi Hartono akan dilakukan KPUD DKI Jakarta pada 3-17 Agustus 2016.

Putu menyebut Teman Ahok akan mengirimkan SMS blast pada saat verifikasi faktual tersebut. Hal itu pun diamini Juru Bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas.

"Pas verifikasi faktual (kalau) tidak ada, terus akan dicoret. Mbak Lia nanti akan kirim SMS blast ke seluruh Jakarta. 'Hari ini kumpul di kelurahan jam segini'," ujar Putu dalam acara "Teman Ahok Fair" di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (28/5/2016).

Dengan langkah itu, kata Putu, Teman Ahok tidak akan kehilangan KTP dukungan yang telah dikumpulkan. Masyarakat akan mengetahui kapan mereka diverifikasi sehingga mereka akan ada saat petugas KPUD melakukan verifikasi faktual ke kelurahan mereka.

"Dengan cara itu, pendukung kita tidak akan berkurang," kata Putu.

Selain itu, Putu juga merekomendasikan agar setiap tempat pemungutan suara (TPS) nantinya dikawal oleh empat orang relawan untuk mengawal proses verifikasi faktual hingga pemungutan suara.

"Sebagai tim ahli, saya merekomendasi satu TPS mesti dikawal oleh empat orang. Kita asumsikan di TPS ada pendukung kita sekitar 200.000 dan orang ini bertugas membantu mengawal proses ini. Kita tidak boleh membiarkan DPT tanpa dikontrol," ucapnya.

Selain mengawal proses verifikasi, keempat orang relawan itu juga nantinya akan menjadi saksi di TPS saat pemungutan suara berlangsung.

"Termasuk orang itu yang menjadi cikal bakal saksi kita di TPS," kata dia.

Amalia menyebut akan membuka pendaftaran relawan untuk membantu mengawal seluruh proses itu. Namun, dia belum dapat memastikan kapan waktu pendaftaran itu dibuka.

"Sekarang kalau ada yang punya saudara di kelurahannya dicatat aja dulu. Kita akan buka pendaftarannya untuk jagain di TPS-nya di kelurahan masing-masing nanti," kata Amalia.

Mari bantu sebarkan, siapa tahu ada teman kita yang bisa bantu untuk mengawal TPS, terima kasih.

 
WaktuCom: Kumpulan Berita Online Terpercaya